Pengaruh musik dan cerita terhadap karakterter mengemudi

Ini sekedar cerita pengalaman pribadi penulis mengenai pengaruh musik dan cerita terhadap karakter mengemudi. Perlu penelitian lebih dalam untuk membuktikannya.

Bukan hal yang aneh bahwa di setiap kendaraan roda 4 terdapat audio visual sebagai fasilitas tambahan. Untuk visual mungkin sudah jelas bahayanya terhadap pengemudi yang ‘meleng’ ikut nonton video misalnya. Sedangkan untuk menikmati musik seharusnya tidak ada bahaya yang bisa kita dapatkan. Tapi pengalaman saya mungkin bisa menjadi pertimbangan bagaimana musik bisa berpengaruh terhadap karakter mengemudi.

Saat itu hari sabtu di jalan lingkar balikpapan, kondisi jalan lenggang tidak seramai hari kerja. Saya tune di sebuah radio yang kebetulan saat itu memutar instrumental piano. Saya tidak kenal lagunya tapi arransementnya lumayan bagus dengan tempo agak slow naik turun. Karena musiknya pas banget dengan suasana hati, maka saya keraskan volumenya. Kendaraan saya kemudikan sedang-sedang saja sekitar 40-50 km/jam. Saya ikuti irama musiknya, sangat menikmati. Semakin lama iramanya semakin cepat dengan dentingan tajam yang naik turun. Tanpa saya sadari, mungkin karena terlalu menikmati, emosi saya terpengaruh naik turun juga. Saya mengemudi kendaraan semakin cepat dan sempat beberapa kali menyalip kendaraan lain dengan, mungkin bisa dikatakan, tidak sopan sampai beberapa kali. Hal ini tidak saya sadari sepenuhnya hinga pada saat tempo musik kembali pelan, saya baru sadar apa yang saya lakukan.

Yang kedua kejadian beberapa hari yang lalu, ketika di sebuah saluran radio menyiarkan sebuah cerita horor. Karena jarang-jarang sekali ada cerita seperti itu (semacam sandiwara radio, tapi hanya satu orang yang bercerita) maka saya terbawa konsentrasi mendengarkannya. Ketika cerita semakin seru dan menakutkan, saat itulah konsentrasi mengemudi saya berkurang. Walaupun mata masih memandang ke depan, tapi aturan dan sopan santun berlalu lintas beberapa kali terabaikan.

Kedua contoh di atas mungkin berbeda pada tiap individu. Seseorang mungkin akan ‘tune’ di musik klasik untuk dapat hilang konsentrasinya sementara seseorang yang lain akan ‘tune’ di musik rock. Atau bisa saja seorang wanita akan ‘tune’ dan hilang konsentrasi mengemudinya saat mendengar penyanyi punjaannya melantunkan tembang cinta favoritnya.

Yang perlu anda sadari adalah, ketika anda tahu (mungkin tidak akan tahu kapan) bahwa anda akan kehilangan konsentrasi karena sebab apa saja, lebih baik hentikan dulu kendaraan anda sebelum ‘dihentikan’ kendaraan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word